Close Menu
Kilas Informasi – AKtual,Informatif,TerpercayaKilas Informasi – AKtual,Informatif,Terpercaya
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Wisata
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, Januari 31
Facebook X (Twitter) Instagram
Kilas Informasi – AKtual,Informatif,TerpercayaKilas Informasi – AKtual,Informatif,Terpercaya
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Wisata
Kilas Informasi – AKtual,Informatif,TerpercayaKilas Informasi – AKtual,Informatif,Terpercaya
You are at:Beranda » Tazbir Abdullah: Puisi Sebagai Cermin Sosial dan Seruan Moral
Daerah

Tazbir Abdullah: Puisi Sebagai Cermin Sosial dan Seruan Moral

KilasInformasiBy KilasInformasiMaret 20, 202503 Mins Read
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Tazbir Abdullah, penyair dengan latar belakang hukum tata negara, menggunakan puisinya untuk menyuarakan isu sosial seperti demokrasi dan korupsi, khususnya saat Ramadhan. foto : Istimewa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Kilasinformasi.com, 20 Maret 2025. – Tazbir Abdullah, seorang penyair dengan latar belakang keilmuan dalam bidang hukum tata negara, semakin dikenal karena peranannya dalam menggunakan puisi sebagai media untuk menyampaikan pesan sosial yang mendalam. Karya-karyanya tidak hanya mencerminkan pandangannya tentang kehidupan, tetapi juga menjadi alat mengkritik berbagai isu penting, seperti demokrasi, hak asasi manusia, dan pemerintahan yang bersih.

Menelusuri jejak perjalanan kreatifnya, Tazbir pertama kali menulis puisi berjudul Aku Terlanjur, yang kemudian disusul oleh karya-karya lainnya. Dalam beberapa kesempatan, puisinya bahkan mendapat perhatian dari para akademisi. Salah satunya, seorang profesor yang tertarik untuk mempublikasikan karya Tazbir di situs web akademik tertentu.

“Saat pandemi melanda, seorang teman yang juga seorang penyair meminta saya untuk membacakan puisinya sebagai bagian dari promosi. Dari sana, saya mulai lebih sering menulis dan membacakan puisi saya di berbagai acara,” kata Tazbir mengenang awal mula keterlibatannya lebih dalam dalam dunia sastra.

Kini, puisi-puisi Tazbir telah menjadi bagian tak terpisahkan dari berbagai acara budaya, termasuk pembukaan pameran seni, acara komunitas, dan kegiatan publik lainnya. Salah satu karya terbarunya, Negara dan Puasa, membahas tema yang sangat relevan: korupsi dalam konteks bulan suci Ramadhan. Dalam puisi ini, Tazbir menggambarkan ketimpangan antara ajaran agama yang menekankan pengendalian diri dengan praktik-praktik buruk seperti korupsi yang terjadi di masyarakat. Bagi Tazbir, bulan Ramadhan seharusnya menjadi momen untuk merefleksikan diri dan memperkuat komitmen  melawan segala bentuk ketidakadilan.

Berikut adalah cuplikan dari Negara dan Puasa karya Tazbir Abdullah, puisi ini  menggambarkan keresahan terhadap situasi sosial:

INDONESIA NEGARA BESAR
BESAR PULA MASALAHNYA
RAKYAT SEDANG GUSAR
KORUPSI DIMANA-MANA

KINI RAMADHAN PUN TIBA
BULAN KITA BERPUASA
SEMUA BERLOMBA-LOMBA
MEMENUHI PERINTAH YANG MAHA KUASA

Puisi ini tidak hanya menyentuh persoalan moral dalam konteks agama, tetapi juga menjadi kritik tajam terhadap praktik-praktik korupsi yang masih merajalela di tanah air, sebuah fenomena yang bertentangan dengan semangat puasa dimana seharusnya mendidik umat untuk lebih menahan diri, serta menjalani hidup dengan lebih baik dan lebih adil.

Aktivitas Tazbir dalam dunia sastra pun terus berlanjut. Dalam beberapa waktu terakhir, ia tampil di berbagai forum sastra dan budaya, membacakan puisinya di acara-acara bergengsi. Salah satunya adalah pameran anggrek yang baru saja diadakan, dan ia juga dijadwalkan untuk tampil kembali dalam sebuah pameran di Jalan Wonosari pada 10 April 2025. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi wadah bagi Tazbir untuk terus berbagi pandangan dan pesan sosial lewat karya-karyanya.

Bagi Tazbir, puisi lebih dari sekadar ekspresi artistik; ia melihatnya sebagai seruan moral yang mampu menggerakkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap isu-isu yang ada.

“Bulan puasa adalah waktu yang tepat untuk introspeksi dan memperkuat komitmen melawan korupsi,” ungkap Tazbir dengan penuh keyakinan. Bagi penyair ini, puisi adalah sarana untuk memupuk kesadaran kolektif dan membangun masyarakat lebih adil.

Tazbir Abdullah berharap bahwa lewat karya-karyanya, ia dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk berani berbicara dan terlibat dalam perubahan positif di masyarakat. Dengan terus menyuarakan pesan-pesan moral yang penting, ia berharap puisi dapat berfungsi sebagai cermin yang memantulkan berbagai masalah sosial umtuk segera bisa teratasi. (Ari Gan)

budaya dan puisi hak asasi manusia karya sastra Indonesia korupsi dalam puisi penyair Indonesia puisi dan Ramadhan puisi refleksi sosial Tazbir Abdullah
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
KilasInformasi
  • Website

Berita Terkait

TPS Karangsaru Resmi Ditutup, Pemkot Semarang Alihkan Fungsi Jadi Taman Lingkungan

Januari 30, 2026

Tanah Kas Desa, Lingkungan, dan Koperasi: Tiga Isu Krusial yang Menentukan Masa Depan Kalurahan

Januari 29, 2026

UGM dan Kejati DIY Gelar Suluh Praja di Desa, Fokus Literasi Hukum Warga

Januari 28, 2026
Berita Terbaru

Komisi X DPR RI Apresiasi Seleksi Terbuka Deputi Kemenpora, Profesional Non ASN Diberi Peluang

Januari 31, 2026 Berita Unggulan

TPS Karangsaru Resmi Ditutup, Pemkot Semarang Alihkan Fungsi Jadi Taman Lingkungan

Januari 30, 2026 Berita Unggulan

Wamenag Tegaskan Sila Pertama Pancasila Harus Menjiwai Seluruh Tugas ASN Kemenag

Januari 30, 2026 Berita Unggulan
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
© 2019 Kilas Informasi - All Right Reserved.
  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.