Candi Borobudur kembali menjadi pusat spiritual umat Buddha dunia. Ribuan peserta dari berbagai negara berkumpul dalam Indonesia Tipitaka Chanting & Āsālha Mahāpūjā 2569/2025, memperkuat komitmen damai dan kebijaksanaan.
Kilasinformasi.com, Magelang — Lebih dari dua ribu umat Buddha dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara mengikuti Indonesia Tipitaka Chanting & Āsālha Mahāpūjā 2569/2025 yang digelar di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Kegiatan spiritual tahunan ini berlangsung selama tiga hari sebagai bagian dari peringatan hari suci Asalha.
Asalha Mahāpūjā memperingati momen penting saat Sang Buddha pertama kali membabarkan Dhamma kepada lima pertapa di Isipatana, Sarnath, serta menjadi hari lahirnya Sangha dan Tiga Permata dalam ajaran Buddha: Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Baca Juga, Kilasinformasi: Ribuan Umat Buddha Akan Padati Borobudur untuk Tipitaka Chanting dan Asadha 2025
Ketua Panitia, S. Tony Coason, menyampaikan bahwa ajang bertaraf internasional ini telah digelar rutin sejak 2015 oleh Sangha Theravada Indonesia (STI), dan tahun ini menjadi pelaksanaan ke-11.
“Peserta tahun ini mencapai 2.007 orang, berasal dari seluruh Indonesia serta dari negara-negara seperti Thailand, Kamboja, Sri Lanka, Inggris, Amerika, Australia, Singapura, dan Malaysia,” jelas Tony.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pengucapan delapan sila sebagai bentuk peningkatan komitmen moral umat Buddha. Biasanya, umat menjalankan lima sila, namun di hari suci seperti ini, delapan sila menjadi praktik utama.
Selama tiga hari, peserta membacakan sutta (bagian dari kitab suci Tipitaka)dengan materi yang berbeda setiap tahunnya. Pada hari kedua, dilaksanakan ritual pradaksina atau mengelilingi stupa utama Borobudur.
Baca Juga, Kilasinformasi: Borobudur Jadi Simbol Diplomasi Budaya: Ibu Negara Prancis Disambut Hangat di Manohara
Puncak acara berlangsung pada hari ketiga, yakni pembacaan sutta terakhir, penutupan Tipitaka Chanting, dan dilanjutkan prosesi Āsālha Mahāpūjā. Prosesi dimulai dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, diikuti lebih dari 11.000 peserta.
Tahun ini, panitia menghadirkan empat kereta simbolik:
-
Kereta Kencana Mahadhatu – membawa relik Buddha
-
Kereta Tipitaka – membawa kitab suci
-
Kereta Dhammacakka – melambangkan perputaran roda Dhamma
-
Kereta Stambawijaya – membawa pilar Raja Asoka, simbol toleransi dan perdamaian
“Pilar Asoka mengajarkan bahwa menghormati agama sendiri berarti juga menghargai agama orang lain. Nilai ini relevan bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia,” ujar Tony.
Ia juga menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi sarana penguatan spiritual umat Buddha. “Kami ingin kegiatan ini tak hanya menjadi perayaan, tapi juga momen mendalami Dhamma dan mempraktikkan ajaran Guru Agung dalam kehidupan nyata,” tutupnya.
Sumber: Kemenag


