Aceh Besar, kilasinformasi.com – Aceh Besar menjadi saksi bagaimana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada awal Desember 2025 tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga mengusik ketenangan banyak keluarga, termasuk para santri Dayah Insan Qur’ani yang menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman. Ketika akses jalan terputus dan air menggenangi permukiman di Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, hingga dataran tinggi Gayo, kabar duka beredar cepat melalui gawai para santri, menghadirkan kecemasan tentang kondisi orang tua dan keluarga mereka.
Situasi itu membuat sebagian wali santri meminta anak-anak mereka tetap bertahan di dayah demi keselamatan. “Nak, tetaplah di dayah dulu. Jalan putus, kami tak bisa pulang menjemput,” demikian pesan yang diterima beberapa santri. Seorang wali santri dari Takengon bahkan menyampaikan kepasrahan, “Lebih baik anak kami bertahan di dayah, biar aman. Kami di sini pun masih terisolasi.” Bagi para santri, pesan tersebut menghadirkan perasaan campur aduk antara rindu, cemas, dan harap.
Di tengah kondisi itu, Dayah Insan Qur’ani di Aceh Besar mengambil peran lebih dari sekadar lembaga pendidikan. Pimpinan dan pengurus dayah memastikan para santri tidak merasa sendiri dengan menghadirkan suasana aman dan penuh perhatian. Sebanyak 42 santri yang keluarganya terdampak langsung menerima santunan dan uang jajan sebagai bentuk kepedulian. “Kami ingin mereka tahu bahwa dayah ada untuk mereka,” ujar salah satu pengurus.
Demi keselamatan, pihak dayah juga memutuskan memperpanjang masa libur hingga 21 Desember 2025 serta menggratiskan seluruh biaya bagi santri yang tidak dapat pulang. Seluruh kebutuhan mereka selama di dayah ditanggung penuh. Pimpinan Dayah Insan Qur’ani, Muzakkir Zulkifli, menegaskan keputusan itu diambil karena kondisi perjalanan yang berisiko. “Keselamatan mereka adalah yang utama,” katanya.
Untuk menjaga kesehatan mental para santri, dayah mengajak mereka mengikuti kegiatan rihlah, mengunjungi museum, dan menikmati suasana kota Aceh Besar. Pada malam hari, kebersamaan dibangun melalui kegiatan sederhana seperti membakar jagung dan makan durian bersama di halaman dayah. Tawa dan kehangatan menjadi terapi untuk meredakan kecemasan. Dukungan juga datang dari para pengurus dan wali santri yang mengirimkan makanan dan kudapan dari dana pribadi. “Yang kami inginkan sederhana. Mereka tetap ceria, tetap merasa aman,” ujar Wakil Ketua Yayasan IQ, M. Raihan.
Tidak hanya fokus pada internal dayah, Dayah Insan Qur’ani juga menggalang donasi bagi masyarakat Aceh yang terdampak banjir dan longsor. Puluhan juta rupiah berhasil dihimpun dari guru, wali santri, dan para muhsinin, lalu disalurkan langsung ke lokasi bencana. “Alhamdulillah, amanah para donatur sudah kami sampaikan,” kata Muzakkir.
Para santri dijadwalkan kembali masuk pada 22 Desember 2025 untuk persiapan ujian semester. Di tengah Aceh yang masih berjuang pulih dari bencana, Dayah Insan Qur’ani hadir sebagai rumah yang menenangkan, tempat para santri tetap bisa belajar, tersenyum, dan menumbuhkan harapan. Dari dayah inilah mereka belajar bahwa keluarga tidak selalu tentang ikatan darah, melainkan tentang siapa yang hadir menguatkan ketika keadaan sedang sulit.
Sumber : kemenag.go.id


