Lumajang, kilasinformasi– Udara sejuk pegunungan Lumajang yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan gugur menjadi saksi lahirnya sebuah kopi dengan karakter kuat dan jujur. Dari bentang alam hijau kaki Gunung Semeru hingga lereng Gunung Lemongan, tumbuh kopi liberika yang selama ini jarang dilirik pasar. Dari tanah vulkanik itulah Original Qohwah hadir, membawa identitas kopi hitam murni khas Lumajang yang tidak dibuat-buat.
Di tengah dominasi kopi arabika dan robusta, kopi liberika tampil sebagai pengecualian. Karakternya tegas dan tidak mudah diterima semua lidah, justru menjadi daya tarik tersendiri. Original Qohwah memilih tampil apa adanya: kopi hitam tanpa campuran, tanpa kompromi, dan tanpa mengikuti selera pasar massal.
Saat diseduh, aroma nangka matang langsung menyeruak, disusul wangi tanah basah, kayu, dan sentuhan herbal yang kuat. Rasanya tegas dengan keasaman rendah, bertubuh tebal, dan meninggalkan aftertaste panjang khas kayu terbakar. Karakter “liar” ini sering dianggap keras, namun bagi penikmat kopi hitam sejati, di situlah letak kejujuran rasanya.
Di balik Original Qohwah berdiri Abdul Rohman (45), warga Desa Bades, Kecamatan Pasirian, Lumajang. Saat banyak pelaku usaha kopi mengejar varietas populer, Abdul justru memilih jalur sunyi dengan mengembangkan kopi liberika yang selama ini terpinggirkan.
Liberika punya karakter yang tidak dimiliki kopi lain. Rasanya tegas, aromanya kuat, dan jujur apa adanya, tuturnya.
Biji kopi Original Qohwah dipilih dari lereng Gunung Semeru dan Gunung Lemongan, dua gunung berapi yang tanahnya kaya mineral. Kombinasi iklim sejuk pegunungan dan abu vulkanik dipercaya menjadi fondasi utama cita rasa khas kopi ini.
Proses produksinya pun tidak instan. Abdul bekerja sama dengan petani lokal yang masih setia merawat pohon kopi liberika. Mulai dari pemetikan buah merah, penjemuran, hingga proses sangrai, semuanya dilakukan dengan penuh kehati-hatian demi menjaga karakter alami kopi.
Kopi ini kami jaga keasliannya. Prosesnya pelan-pelan supaya karakter rasa alaminya tetap keluar. Kalau salah perlakuan, identitas kopinya bisa hilang, ujarnya, Senin (29/12/2025).
Keterbatasan produksi justru menjadi kekuatan. Kopi liberika tidak dihasilkan dalam jumlah besar dan kerap disimpan petani untuk konsumsi sendiri. Kelangkaan inilah yang membuat Original Qohwah eksklusif, bukan sebagai produk massal, melainkan sebagai warisan rasa yang dirawat.
Perjalanan Original Qohwah ke pasar tumbuh secara alami dari mulut ke mulut. Para penikmat kopi yang mencari pengalaman rasa berbeda mulai meliriknya. Bagi segmen penikmat kopi menengah ke atas, Original Qohwah bukan sekadar minuman, melainkan cerita tentang tanah, gunung, dan keberanian untuk setia pada karakter asli.
Kini, Original Qohwah tersedia dalam kemasan 200 gram hingga 500 gram. Meski dibanderol dengan harga yang tidak murah, nilainya sebanding dengan proses panjang, kesabaran, dan konsistensi yang dijaga sejak awal. Setiap kemasan membawa aroma tanah vulkanik dan kerja keras petani Lumajang.
Di tengah arus globalisasi rasa dan budaya instan, Original Qohwah memilih berdiri tegak dengan identitasnya sendiri. Ia tidak berusaha menyenangkan semua orang, tetapi setia pada asal-usulnya.
Dari lereng Gunung Semeru dan Lemongan, secangkir Original Qohwah menjadi bukti bahwa kekayaan lokal Lumajang tidak harus berteriak untuk dikenal. Cukup dirawat dengan keyakinan, konsistensi, dan kesabaran.
Kisah Original Qohwah adalah kisah tentang kopi liberika yang liar, tanah vulkanik yang memberi kehidupan, dan manusia yang memilih setia pada jati dirinya. Dalam setiap tegukan, tersimpan pesan bahwa karakter kuat tidak selalu hadir untuk menyenangkan semua orang, tetapi untuk diingat oleh mereka yang benar-benar memahami.
(MC Kab. Lumajang/Ard/An-m)
Sumber : Info Publik


