Close Menu
Kilas Informasi – AKtual,Informatif,TerpercayaKilas Informasi – AKtual,Informatif,Terpercaya
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Wisata
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, Januari 31
Facebook X (Twitter) Instagram
Kilas Informasi – AKtual,Informatif,TerpercayaKilas Informasi – AKtual,Informatif,Terpercaya
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Wisata
Kilas Informasi – AKtual,Informatif,TerpercayaKilas Informasi – AKtual,Informatif,Terpercaya
You are at:Beranda » GKR Bendara Tebar Energi Positif di Malioboro, Ribuan Wisatawan Terpukau!
Berita Unggulan

GKR Bendara Tebar Energi Positif di Malioboro, Ribuan Wisatawan Terpukau!

KilasInformasiBy KilasInformasiDesember 2, 202504 Mins Read
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
GKR Bendara menegaskan pentingnya wellness berbasis budaya di Malioboro Culture Vibes 2025 dan mengajak masyarakat kembali pada kearifan lokal Yogyakarta. foto: Istimewa
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Kilasinformasi.com, Yogyakarta – Talkshow Tokoh Perempuan Inspiratif dalam rangkaian Malioboro Culture Vibes 2025 menghadirkan suasana hangat di Titik Nol Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta ini menjadi momentum untuk merayakan kiprah perempuan inspiratif serta menguatkan karakter budaya kota sebagai ruang publik yang kreatif dan inklusif.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menegaskan pentingnya Malioboro Culture Vibes sebagai wajah baru Yogyakarta yang menggabungkan budaya, interaksi sosial, dan nilai-nilai wellness.

“Malioboro Culture Vibes ini bukan hanya event seni dan budaya, tetapi juga ruang wellness, ruang yang menyehatkan jiwa, menghadirkan ketenangan, serta memberi kesempatan bagi masyarakat dan wisatawan untuk grounding merasakan energi Yogyakarta. Harapannya kegiatan seperti ini bisa diwartakan jauh-jauh hari sebelum penyelenggaraan, sehingga mampu menarik wisatawan datang ke Yogyakarta,” ujar GKR Bendara.

Foto: Istimewa

Yogyakarta, dalam pandangan GKR Bendara, memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat wellness berbasis budaya di Indonesia. Wellness bukan sekadar kegiatan perawatan tubuh atau tren gaya hidup, melainkan laku hidup yang mengakar pada filosofi Jawa: menyelaraskan wiraga (raga), wirasa (rasa), dan wirama (ritme).

Dalam konteks Yogyakarta, wellness dapat ditemukan dalam berbagai praktik keseharian yang tampak sederhana tetapi sarat makna,  tapa bisu saat Mubeng Benteng, macapatan sebagai laku kontemplatif melalui tembang, laku lampah dalam menyusuri kota tua, hingga nyeker sebagai grounding dan penyelarasan tubuh dengan bumi. Praktik-praktik ini bukan sekadar ritual budaya, tetapi bentuk mindfulness kuno yang telah hidup ratusan tahun sebelum istilah modern itu dikenal luas.

GKR Bendara menegaskan bahwa wellness ala Yogyakarta adalah wellness yang membumi, menolak hiruk-pikuk industri kecantikan yang serba instan dan kembali memuliakan kesederhanaan.

“Wellness itu bukan kemewahan, tapi kesadaran. Kesadaran akan napas, waktu, rasa, dan koneksi dengan tanah tempat kita berpijak. Yogya telah memiliki itu semua sejak lama,” ujarnya.

Karena itu, Yogyakarta tidak perlu mengejar-ngejar istilah asing untuk menunjukkan kapasitasnya. Wellness Yogyakarta adalah bentuk slow living yang tumbuh dari filosofi lokal: hidup yang ritmis, tidak terburu-buru, menghargai jeda, dan memberi ruang pada keheningan untuk memulihkan diri.

Grounding & Gaya Hidup Sehat ala GKR Bendara

GKR Bendara membagikan cara sederhana menjaga keselarasan hidup di tengah dinamika kesibukan.

“Grounding bisa dimulai dari hal-hal kecil: menikmati udara pagi, berjalan di halaman, atau menyentuh tanah. Dari laku-laku sederhana itu lahir ketenangan batin yang menjadi sumber energi utama,” tuturnya.

Beliau menambahkan bahwa praktik seperti ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu dihidupkan kembali agar masyarakat tidak kehilangan akarnya di tengah derasnya modernitas.

Kuliner Favorit yang Menguatkan Tubuh

Dalam narasinya, GKR Bendara menyebut beberapa makanan rumahan yang menjadi bagian dari ritual sederhana menjaga keseimbangan tubuh, sayur lodeh, kronyos, dan soto daging sapi.

“Makanan Jawa itu hangat dan membumi. Wellness bagi saya adalah kembali ke masakan rumah—sederhana, bergizi, jujur rasanya, dan membuat tubuh merasa nyaman,” ujarnya.

Kuliner ini bukan sekadar hidangan, tetapi bagian dari filosofi tata rasa, yang mengajarkan kesederhanaan, keseimbangan, dan penerimaan.

Rahasia Kecantikan Alami

Dalam suasana santai, GKR Bendara berbagi rahasia kecantikan yang selama ini menarik perhatian publik.

“Saya tidak pernah luluran. Saya lebih memilih perawatan alami: tidur yang cukup, memperbanyak air putih, makan sehat, dan menjaga batin tetap rileks. Kalau hati tenang, wajah pun memancar dengan sendirinya,” ungkapnya.

Baginya, kecantikan tidak datang dari ritual perawatan yang rumit, tetapi dari ketenangan jiwa, konsistensi gaya hidup, dan penerimaan diri.

Foto: Istimewa

Perspektif Budaya, Kritik Kolonialisme Bahasa & Pentingnya Identitas Yogya

Talkshow ini juga menyentuh tema penting: kritik terhadap kolonialisme bahasa. GKR Bendara menyoroti bahwa istilah wellness kerap diartikan sebagai sesuatu yang modern dan Barat, padahal masyarakat Jawa telah memiliki istilah dan praktik yang jauh lebih tua dan lebih kaya makna.

Mereka menyuarakan agar Yogyakarta tidak kehilangan kosakata lokal yang menjadi identitasnya. Istilah asing boleh hadir sebagai jembatan, tetapi kearifan lokal tetap menjadi fondasi.

Yogyakarta disebut sebagai kota yang mengajarkan “urip iku sawang-sinawang,” kota yang membangun ritme hidup yang lembut, sabar, dan berjarak dari hiruk-pikuk modernisme—nilai yang kini semakin dicari wisatawan dunia.

Menurutnya, potensi wellness berbasis budaya adalah kekuatan Yogyakarta yang terus berkembang. Wellness bukan sekadar perawatan tubuh, tetapi keseimbangan antara pikiran, tradisi, dan kedekatan dengan lingkungan.

Melalui Malioboro Culture Vibes, wellness ditampilkan bukan sebagai komoditas, tetapi sebagai pengalaman kolektif, tempat masyarakat dan wisatawan merasakan bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari spa, terapi, atau ritual yang rumit, tetapi dari kebersamaan, kesenian, makanan rumahan, langkah-langkah kecil, dan kesadaran penuh akan hadirnya kita di Yogyakarta.

#BudayaYogyakarta #EventYogyakarta #GKR Bendara #MalioboroCultureVibes #MindfulnessJawa #PariwisataDIY #SlowLivingYogya #TitikNolYogyakarta #WellnessYogya #WisataYogya
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
KilasInformasi
  • Website

Berita Terkait

TPS Karangsaru Resmi Ditutup, Pemkot Semarang Alihkan Fungsi Jadi Taman Lingkungan

Januari 30, 2026

Wamenag Tegaskan Sila Pertama Pancasila Harus Menjiwai Seluruh Tugas ASN Kemenag

Januari 30, 2026

Tanah Kas Desa, Lingkungan, dan Koperasi: Tiga Isu Krusial yang Menentukan Masa Depan Kalurahan

Januari 29, 2026
Berita Terbaru

TPS Karangsaru Resmi Ditutup, Pemkot Semarang Alihkan Fungsi Jadi Taman Lingkungan

Januari 30, 2026 Berita Unggulan

Wamenag Tegaskan Sila Pertama Pancasila Harus Menjiwai Seluruh Tugas ASN Kemenag

Januari 30, 2026 Berita Unggulan

Tanah Kas Desa, Lingkungan, dan Koperasi: Tiga Isu Krusial yang Menentukan Masa Depan Kalurahan

Januari 29, 2026 Berita Unggulan
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
© 2019 Kilas Informasi - All Right Reserved.
  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.