PEKANBARU, kilasinformasi.com – Pantun bukan sekadar rangkaian kata berima indah, melainkan cerminan perjalanan panjang peradaban Melayu yang terus hidup dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Dari ruang adat yang sakral hingga ruang digital masa kini, pantun tetap bertahan sebagai identitas budaya yang melekat kuat pada masyarakat Melayu.
Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Riau, Datuk Alang Rizal, mengungkapkan bahwa pada masa awal kemunculannya, pantun hanya digunakan dalam ruang-ruang terbatas yang bersifat sakral. Pantun hadir dalam perundingan adat, upacara resmi, hingga ritual mantra tradisional.
Pantun digunakan dalam perundingan-perundingan adat serta acara resmi masyarakat Melayu, termasuk dalam mantra tradisional. Ini menandakan bahwa pantun telah ada sejak peradaban Melayu mulai tumbuh dan berkembang, ujar Datuk Alang Rizal dalam keterangan pers yang diterima, Senin (15/12/2025).
Seiring perkembangan waktu, pantun tidak lagi terkungkung dalam ruang sakral. Ia tumbuh menjadi bagian dari komunikasi sastra lisan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu, berdampingan dengan petatah-petitih dan bahasa tutur yang menjunjung tinggi nilai kesantunan.
Pantun mulai memasuki ruang profan, dari yang sebelumnya sakral, kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, jelasnya.
Dalam tradisi lisan, pantun mengalir melalui berbagai medium seperti lagu pengantar tidur, nyanyian rakyat, kayat, hingga cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terkandung pesan moral, nasihat hidup, serta kearifan lokal yang membentuk karakter masyarakat Melayu.
Memasuki ranah budaya populer, pantun turut merambah industri musik. Sejumlah seniman Melayu ternama, seperti S.M. Salim dan Iyed Bustami, masih setia menggunakan pantun sebagai lirik lagu, sehingga membuatnya tetap relevan di tengah arus modernisasi.
Beragam irama dan genre musik memanfaatkan syair yang bersumber dari pantun, menjadikan pantun terus relevan hingga era modern, terangnya.
Pantun juga memainkan peran penting dalam komunikasi sosial. Pada masa lalu, pantun kerap digunakan dalam surat-menyurat, terutama oleh kalangan muda-mudi, untuk menyampaikan perasaan cinta, rindu, dan harapan secara halus dan beradat. Hingga kini, tradisi tersebut masih terasa dalam berbagai kesempatan formal maupun informal.
Bahkan, pantun sering diselipkan oleh pejabat pemerintahan dalam pidato resmi atau santai, baik sebagai pembuka, penutup, maupun penegas pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Aryadi, menegaskan bahwa di era digital, pantun mengalami transformasi baik dari sisi bentuk maupun medium penyampaiannya. Media sosial dan platform daring kini menjadi ruang baru bagi pantun untuk berkembang dan menjangkau generasi muda.
Perubahan zaman harus direspons dengan langkah-langkah adaptif, namun tetap menjaga nilai dasar dari pantun itu sendiri, ujar Aryadi.
Sebagai upaya menjaga eksistensi pantun, Dinas Kebudayaan Provinsi Riau secara aktif menggelar berbagai kegiatan kreatif, salah satunya lomba video berbalas pantun secara daring melalui media sosial. Kegiatan ini melibatkan pelajar, komunitas budaya, hingga para budayawan.
Ini merupakan bagian dari strategi edukasi kami, baik secara langsung maupun daring, agar pantun tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda, pungkasnya.
Sumber : Info Publik


