Ribuan orang tumpah ruah di pesantren eLKISI Mojokerto. Dalam balutan silaturahmi dan tabligh akbar, semangat perjuangan para santri kembali bergema dari kaki Gunung Penanggungan.
Kilasinformasi.com, Mojokerto — Di tengah hamparan sawah hijau dan latar megah Gunung Penanggungan, Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto kembali menjadi pusat perhatian nasional. Minggu (27/7/2025), ribuan orang dari berbagai daerah memadati kompleks pesantren untuk menghadiri Silaturahmi Nasional ke-12 dan Tabligh Akbar, sebuah agenda tahunan yang sarat makna perjuangan.
Lebih dari 4.000 peserta, termasuk wali santri dan masyarakat umum, turut hadir dalam acara yang dibalut suasana khidmat namun penuh semangat. Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i, hadir secara langsung dan menyampaikan pesan penting tentang peran pesantren dalam sejarah bangsa.
“Santri bukan hanya penuntut ilmu, tetapi juga pejuang kemerdekaan sejak dulu. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 adalah bukti nyata peran pesantren dalam menjaga NKRI,” ujar Wamenag.
Ia menekankan bahwa perjuangan para kiai dan santri kala itu tak sekadar soal perlawanan fisik, melainkan juga spiritual dan kebangsaan. Kini, semangat itu diwariskan pada para santri masa kini yang berjuang menuntut ilmu dengan keikhlasan dan tekad.
Baca Juga, Kilasinformasi: Erni Merasakan Perubahan Besar Dalam Pola Hidup dan Ibadahnya, Seusai Ikuti Dzikir Hippocampus
Salah satu momen yang paling menyentuh adalah lomba cepat tanggap hadits, yang diikuti lima santri terbaik. Mursyid, salah satu peserta, tampil luar biasa menjawab pertanyaan dari Ketua MUI Kabupaten Mojokerto, KH Cholil Arphaphy. Dengan hafalan 300 hadits yang dikuasainya, ia menyabet predikat mumtaz dan membuat kedua orang tuanya terharu di tengah tepuk tangan meriah.
Acara ini bukan hanya tentang penguatan nilai agama dan kebangsaan. Peserta juga pulang membawa hasil bumi dari lingkungan pesantren, sebuah simbol kemandirian dan pemberdayaan umat yang terus dijaga eLKISI hingga hari ini.
Pondok Pesantren eLKISI yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, terus berkembang menjadi pusat pendidikan modern berbasis nilai keislaman. Di tempat inilah, warisan perjuangan bangsa dijaga dan disemai melalui generasi baru yang berilmu dan berakhlak.
Sumber: Kemenag


